Home SUBSCRIBE
Username
Password
Klik disini untuk daftar.
Lupa password? klik disini.
 
 

 
REMASAN PANTAI
:: 06-09-2010

Pengalaman saat sekolah ini tidak akan terlupakan seumur hidup saya. Ceritanya saat liburan sekolah kami mengadakan study tour ke Bali. Seperti biasa, saya bersama gang berisik selalu berulah jahil sepanjang perjalanan. Begitu pula saat seluruh siswa mampir ke Pantai Kuta. Saya mengajak tim berisik untuk hunting mancari pemandangan “indah” yang tidak lain wanita-wanita berjemur. Letih menyisiri pantai sambil menggoda wanita-wanita internasional, kami akhirnya beristirahat di bawah pohon. Kami duduk berlima saling tertawa. Tiap kali ada wanita seksi lewat, kita juga saling senggol memberikan kode rahasia. Kemudian saya lihat ada wanita seksi lain lewat dengan tonjolan dada menggiurkan. Kesempatan ini segera saya kasih tahu teman saya yang duduk di samping kiri. Karena saya senggol ia sedang menerima telpon, lalu tangan saya arahkan ke samping kanan belakang ke arah teman saya yang lain. Tapi beberapa kali senggolan juga tidak ada respon. Lalu dengan kode lebih ekstrim saya remas dada teman saya itu (bercandaan yang sangat tipikal) untuk memberi isyarat kalau wanita di depan itu dadanya bagus. Sial! Ternyata itu bukan teman saya, melainkan turis pria asal Spanyol bertubuh gempal. Karena merasa terganggu, turis itu memanggil pihak security dalam bahasa Inggris dan menyebut saya sebagai gay yang gila. Waduh! Malu bukan kepalang. Karena kejadian itu terjadi pada saat Pantai Kuta sedang penuh-penuhnya.
Edwin, Jakarta

Mau dapat kisah nyata yang seru langsung di Handphone anda,
Ketik : REG TRUE kirim ke : 9886

Suatu hari saya naik kereta Pakuan Express ke Jakarta Kota yang keretanya hanya berhenti di stasiun tertentu saja. Di stasiun Depok, kereta berhenti untuk mengambil penumpang. Saat pintu kereta terbuka, saya lihat ada seorang bapak terduduk di luar, memegang tongkat di antara pintu masuk kereta. Lebih iba lagi, tangan bapak mencoba menggapai-gapai saya, seolah memberi sign kalau ia ingin naik kereta. Saya yang sejak sekolah terlatih sebagai seorang Pramuka langsung tergerak jiwa sosialnya. Saya pun menolong si bapak dengan mengulurkan tangan. Lalu sekuat tenaga saya angkat si bapak untuk masuk ke dalam kereta. Dalam hitungan detik, pintu kereta otomatis langsung tertutup dan kereta segera berjalan. Selesai sudah tugas mulia ini pikir saya bangga. Tapi, tiba-tiba, “Bletak!” Saya mendengar suara yang ternyata berasal dari tongkat si bapak yang dipukulkan ke arah kepala saya. Saya lihat si bapak mengambil ancang-ancang untuk memukul, lantas secepat kilat saya langsung menangkisnya. Belum sempat saya bicara, si bapak langsung teriak pada saya, “Sia goblok! Aing menta duit kalahkah ditaekkeun kereta!” (Kamu goblok! Saya minta uang malah di naikin ke atas kereta!) Ternyata bapak itu pengemis yang tadi sedang berusaha mengulurkan tangan ke saya untuk meminta uang. Saya kira bapak itu mau naik. Saya pun segera minta seribu maaf, lalu jalan pindah gerbong. Parahnya lagi, kereta tidak berhenti hingga Stasiun Kota. Betapa merasa bersalahnya saya saat itu.
Wino, Bogor

Mau dapat kisah nyata yang seru langsung di Handphone anda,
Ketik : REG TRUE kirim ke : 9886
TERBUANG PERCUMA
:: 24-08-2010

Suatu ketika saya dan seorang teman bernama Errie mendapat hadiah sebotol black label dari teman yang datang dari luar negeri. Dengan senangnya kami langsung membuka botol tersebut di kos saya. Teman saya yang pada saat itu memiliki janji untuk bertemu pacarnya di kampus terpaksa membatalkan demi cairan tersebut. Tapi sayangnya dia tidak mengabarkan si pacar. Kami minum-minum secara santai. Yang jelas kami berdua fly. Berkali-kali saya dengar ponsel teman saya bunyi. Namun ia tetap tidak bergeming. Tahu-tahu pintu kamar saya diketuk dengan keras. Karena ketukan makin keras dan juga dituruti oleh pemanggilan nama “Errie”, maka pintu saya buka. Sudah ditebak, yang datang itu Ami, pacarnya Errie. Ami marah-marah melihat Errie dan saya ada di dalam. Segala caci maki ia sebutkan. Tapi untungnya Ami tidak mengerti ada minuman keras. Dia tahunya Errie santai-santai di tempat saya, sedangkan ia panas-panasan menunggu Errie di kampus. “Gila kamu, ya! Aku nunggu kamu kepanasan di kampus, eh, kamu malah di sini enak-enakan!” lantang Ami. Lalu dengan santainya ia mengambil botol minuman yang masih terisi penuh, dan menenggaknya tanpa tanya. Tiba-tiba, “Huek! Minuman apaan ini? Rasanya basi!” ujarnya. Karena dalam keadaan emosi dan kesal, botol yang Ami genggam itu jatuh dan pecah. Tentu saja cairan isinya terbuang sia-sia. Kami yang lihat kejadian minuman mahal itu terbuang hanya mengelus dada. Betapa sialnya hari itu.
Bram, Jakarta

Mau dapat kisah nyata yang seru langsung di Handphone anda,
Ketik : REG TRUE kirim ke : 9886
MBAK CEREWET
:: 13-08-2010

Sejak dahulu saya paling tidak suka bila ada kritik secara langsung soal urusan gaya busana. Apalagi bila hal itu dilakukan di depan umum. Karena bagi saya: gaya saya, saya sendiri yang tentukan. Tapi itu ternyata tidak selamanya benar. Hal ini terjadi saat saya akan membeli sebuah kemeja di mall besar. Seperti biasa saya melakukan fitting terlebih dahulu di kamar pas. Yang membuat kesal, sejak saya memilih kemeja yang akan di-fitting, mbak-mbak penjaga toko terlalu bawel mengomentari kalau saya lebih cocok yang ini, bukan yang itu. Celotehan itu pun terjadi bermenit-menit selama saya ada di situ membuat gendang telinga pengang. Akhirnya, saya bisa fitting dengan tenang. Setelah saya rasa kurang pas, saya kembali menukar kembali kemeja tadi dengan tipe lain. Tentu dengan nada kritik si mbak tadi kalau saya lebih baik memakai tipe pilihannya. Fuih, akhirnya saya bisa menentapkan pilihan. Sampai saya bayar, si mbak tadi masih saja mengomentari penampilan saya. Awalnya saya balas dengan senyuman. Tapi lama-lama mengesalkan juga. Dengan muka sedikit digalakkan, saya pun bilang, “Terimakasih, Mbak!” Lalu saya pergi. Anehnya lagi, kok banyak mata yang memerhatikan saya. Ketika ada kaca, saya mencoba menoleh diri sendiri. Alamak! Ternyata setelah fitting tadi, saya pakai bajunya terbalik. Dan itu terjadi belum jauh dari tempat si mbak tadi yang dari kejauhan melambaikan tangan sambil cekikikan.

Kanaya, Jakarta

Mau dapat kisah nyata yang seru langsung di Handphone anda,
Ketik : REG TRUE kirim ke : 9886
Balada Warnet
:: 05-08-2010

Ketika libur kuliah, saya sempat magang di salah satu warnet berfasilitas lengkap untuk mengisi waktu luang. Suatu malam, sekitar jam 8 saya kebagian tugas untuk menjaganya. Tiap ruangan di warnet ditutupi tirai sehingga kondisi ini memang sangat nyaman dan private sekali bagi pengguna warnet. Tempat saya berjaga tidak kalah nyaman. Kemudian datang sepasang pria dan wanita yang masih menggunakan seragam. Awalnya saya tidak hiraukan kedatangan mereka itu. Saya menganggapnya seperti penyewa-penyewa lainnya saja. Satu jam sudah berjalan. Anehnya setelah mereka masuk, saya perhatikan di komputer utama mereka sama sekali tidak melakukan log on. Lama-lama saya jadi menaruh curiga kalau mereka berdua melakukan kegiatan mesra-mesraan. Saya kembali pantau melalui komputer utama, tapi yang ter-report malah komputer keadaan off. Sayapun beranikan diri untuk membuka tirai secara paksa, lalu berteriak lantang. Setelah terbuka, apa yang terjadi? Mereka kaget. Si pria sedang berada di posisi kolong komputer mengutak-atik komputer, lalu si wanitanya duduk manis di bangku. Entah siapa yang malu, yang pasti muka saya juga merah. Karena ternyata mereka sepasang gaptek yang dari tadi terus mencoba utak-atik komputer, tapi saya malah marah-marah tidak jelas. Beberapa penyewapun menyoraki saya sebagai penjaga warnet yang arogan. Benar-benar malu bukan kepalang.

Sani Gunawan, Bandung

Mau dapat kisah nyata yang seru langsung di Handphone anda,
Ketik : REG TRUE kirim ke : 9886
AIR SENI TENGAH MALAM
:: 19-05-2010

Ketika seorang teman kuliah ulang tahun dan membuat party di rumahnya, saya sengaja datang dengan mengajak pacar dengan harapan membuat iri teman-teman se-gang. Benar saja, hampir seluruh teman kampus merasa salut dengan saya yang memiliki pacar cantik nan seksi. Kami pun didaulat untuk dansa di tengah crowd. Tapi hingar-bingar musik malah membuat saya dan pacar tidak merasa romantis di tempat ini. Ketika pesta semakin meriah, saya dan pacar menyelinap ke luar ruangan dan pergi ke taman belakang yang memiliki pagar tanaman tinggi. Kami mencari daerah strategis (baca: sepi dan nyaman) agar bisa menikmati malam berduaan.

Awalnya kami duduk-duduk saja di rumput di bawah temaram bulan purnama. Kami bersenda gurau menilkmati malam itu. Tiba-tiba datang teman-teman memanggil nama saya. Karena posisi kami yang sedang berduaan di rumput, tentu akan membuat kecurigaan tersendiri bagi siapa saja yang menemukan kami di situ. Kami pun bersembunyi sambil menundukkan kepala. Ah, berhasil! Mereka menjauh dari tempat kami. Baru saja kami berpikir tempat ini sudah clear, tiba-tiba kami mendengar suara langkah tepat di balik pagar tempat kami duduk. Dan tak berapa lama, cipratan air muncul dari balik pagar dan membasahi kami. Sambil terus menunduk agar tidak terlihat, saya merasakan kalau air tersebut bukanlah air biasa. Benar saja, itu merupakan air seni orang tersebut. Oh, shit! Tubuh kami berdua basah dan bau pesing. Sambil terkekeh, lalu kami pun segera meninggalkan party itu dan pulang ke rumah.

Rio, Bogor

Mau dapat kisah nyata yang seru langsung di Handphone anda,
Ketik : REG TRUE kirim ke : 9886
MOTOR RACING
:: 14-05-2010

Sewaktu kuliah, kami memiliki tempat nongkrong di warung pinggir jalan dekat kampus. Suatu hari pemilik
warung (dipanggil Kang Jenggot, karena jenggotnya lebat sekali) minta diantar ke ATM yang jaraknya sekitar 500 meter dari tempat kami. Karena posisi motor saya di tengah parkiran, akhirnya saya pinjam motor seorang teman lain, yakni Yamaha RX King. Teman-teman senang meminjam motor ini karena knalpot racing-nya dapat menghasilkan suara menggelegar saat gasnya dimainkan. Motor pun saya hidupkan dan saya mainkan gasnya keras-keras. Lalu saya pakai jaket dan helm. Sekali lagi, breeeng... breeng! Lalu motor saya jalankan. Suaranya yang menggelegar serasa membuat energi makin pol saja untuk menungganginya. Tanpa pikir panjang saya langsung gas dalam-dalam. Setelah puluhan meter motor saya gas dari titik semula, saya mulai ajak bicara Kang Jenggot. Anehnya kok ucapan saya tidak direspon. Apa karena saya pakai helm?

Lalu helm saya buka. Masih dengan memainkan gas, saya ajak bicara Kang Jenggot. Kali ini dengan nada bicara lebih keras. Ketika melewati kampus, beberapa adik mahasiswa melihat tingkah saya terheran-heran. Sadar yang saya ajak bicara tidak respon, saya menoleh ke belakang. Dan ternyata Kang Jenggot tidak ada. Alamak, ia tertinggal di tempat nongkrong tadi. Dengan rasa malu saya balik lagi ke teman-teman dan saya lihat Kang Jenggot masih berdiri bersama teman-teman dengan tawanya yang lebar.

Resto, Jakarta

Mau dapat kisah nyata yang seru langsung di Handphone anda,
Ketik : REG TRUE kirim ke : 9886
"BUDI" VS. "OVER PEDE"
:: 06-05-2010

Secara harafiah antara “budi”, alias budek dikit, dengan “over pede” (percaya diri), itu jauh sekali korelasinya. Tapi entah kenapa kala hati saya sedang senang, gembira, dan bangga, antara “budi” dan “over pede” terjadi secara berbarengan tanpa sekat. Begini ceritanya. Saat baru punya rumah sendiri, rasanya senang sekali. Sepertinya tidak ada yang lebih menyenangkan selain mengatur rumah sebaik mungkin. Apalagi kemudian banyak yang memujinya. Namanya daerah saya perumahan baru, jadi banyak yang juga sama-sama sedang membangun rumah.

Suatu hari saat sedang duduk di teras saya kedatangan dua orang yang sejak tadi sepertinya mereka terkesan dengan desain rumah saya. Penasaran, saya pun mendekatinya. “Ada apa, Pak?” tanya saya dari jarak 3 meter. “Oh, tidak. Ini lho, kami mau tanya, rumahnya buagus….” Belum sempat dia menjelaskan lebih lanjut, saya langsung memotong bicaranya dengan rasa bangga. “Wah, rumah saya memang ngebangunnya lumayan lama, pak. Tapi hasilnya maksimal, kan? Seperti yang bapak lihat, bla... bla… bla…” Setelah penjelasan panjang lebar, mereka tersenyum dan berkata, “Maaf, maksudnya kami tadi mau menanyakan rumah Bu Agus...” Dhueeer! Muka saya tiba-tiba langsung merah padam karena malu banget. Benar-benar saya salah dengar. Saya pikir mereka bilang “buagus” itu memuji rumah saya. Tapi tidak tahunya mereka menanyakan rumahnya Bu Agus. Inilah akibat terlalu “over pede”.

Shin, Unggaran

Mau dapat kisah nyata yang seru langsung di Handphone anda,
Ketik : REG TRUE kirim ke : 9886
-->
 Join FHM Facebook

 Follow FHM Indonesia on Twitter

 MRA CARD

 
Hot News Kabar gembira bagi Anda pecinta musik The Beattles. Dalam rangka memperingati ulang tahun John Lennon ke-70, EMI berencana meluncurkan kembali delapan album karya penyanyi legendaris itu dalam bentuk ... [detail]
 
 
 
Best Viewed On Firefox. With Resolution 1024x768 pixel.
Link | Advertising | Terms and Conditions | About Us | Where to Buy

© 2008 FHM Indonesia