Home SUBSCRIBE
Username
Password
Klik disini untuk daftar.
Lupa password? klik disini.
 
 

 
HANDLING A NERVOUS
:: 25-08-2010

Walaupun bekerja sebagai project officer untuk sebuah perusahaan, saya masih suka merasa sangat gugup saat sedang meeting untuk presentasi proyek. Mengapa gugup? Karena beban yang saya alami adalah mempengaruhi keuntungan perusahaan yang jumlahnya sangat besar.

Saya merasakan kembali nervous tersebut saat sebelum meeting dengan perusahaan lain di sebuah kantor, bilangan Jalan Sudirman. Untuk mulai mengikis rasa gugup itu, saya mencoba melakukan pembicaraan ringan dengan cowok yang akan presentasi juga dari perusahaan kompetitor kami di bidang yang sama sebelum kami meeting. Agak ironis memang, namun mungkin karena nervous, saya jadi terlihat sok asik. Saya menyapa dia dan malah curhat bahwa saya sedang gugup berat saat itu. Si cowok berumur awal 30-an itu malah bercanda, “kalau kata psikolog, seks ampuh membereskan nervous, lho.” Entah apa di benak saya waktu itu. Sekujur tubuh lemas seketika. Saya malah lebih salah tingkah, dan baru sadar bahwa saya asal bicara, “I wish I had one.”

Tiba-tiba tangannya sudah ada di pinggul saya. Dia mulai memeluk dari belakang. Saya lemas tapi turn on seketika. Dia bilang, “You want one?” Lalu saya cuma bisa mengangguk dan memasang posisi favorit. Kecupannya di leher makin membuat saya tidak berdaya. Setelah making out dengan si wakil dari kompetitor itu (dengan lipstik yang sudah berantakan), Saya menarik pencil skirt model klasik saya. Beberapa manuver kami lakukan dalam hitungan menit.

Meeting setelah “pertempuran privat” itu akhirnya berjalan lancar tanpa gugup sama sekali. Perusahaan saya yang akhirnya memenangkan tender proyek tersebut. Saat diputuskan bahwa perusahaan kompetitor tidak menang tender itu, cowok pembicara yang menjadi lawan saya secara “privat” yang juga menjadi pemberi presentasi membisikkan sesuatu ke telinga saya, “Tunggu balasan saya.” Sebuah senyum diberikan dari bibir tipisnya sambil menyerahkan kartu nama yang di bawahnya dia tulis, “Please, call me again!”
Laura, Jakarta

Dalam perjalanan kembali ke Los Angeles dimana saya tinggal, saya bertemu dengan seorang pria di pesawat yang duduk di bangku sebelah saya. Dia tampan dan berpostur badan tinggi atletis. Beberapa jam setelah lepas landas dari Singapura, pesawat kami memasuki daerah turbulance atau gangguan cuaca yang cukup parah. Saya sudah sering melakukan perjalanan internasional tetapi gangguan cuaca yang satu ini harus diakui lebih parah dari biasanya. Pesawat kami sempat kehilangan ketinggian beberapa detik dan saya tahu ada sesuatu yang tidak beres dari suara mesin pesawatnya. Penumpang sudah panik dan saya baru sadar bahwa saya sudah memegang tangan si cowok di sebelah saya itu. Dia hanya tersenyum dan menanyakan apakah saya baik-baik saja. Dia memperkenalkan diri dan menawarkan saya minuman untuk menenangkan diri. Kami meminta dua gelas wine dan mulai ngobrol. Penerbangan berjam-jam menjadi lebih singkat dengan obrolan kami itu. Tetapi pesawat kami ternyata harus mendarat di Jepang karena kerusakan mesin. Para penumpang tidak punya pilihan dan harus bermalam di hotel dekat airport menunggu perbaikan pesawat. Saya diberikan satu kamar dan kebetulan si cowok itu mendapatkan kamar di seberang kamar saya. Setelah masuk ke kamar masing-masing, tiba-tiba telepon kamar berdering dan dia mengajak saya untuk minum di lobby bar. Setelah kembali ngobrol-ngobrol sambil minum beberapa gelas cocktail, saya merasa sudah tipsy dan memutuskan untuk kembali ke kamar. Tetapi saat perjalanan menuju ke kamar, dia mencium saya di lift dan kami mulai making out selama perjalanan naik. Keadaan makin tidak terkendali dan sesampainya kami di depan kamar masing-masing, saat dia kembali memeluk saya dan mendaratkan bibir seksinya itu di bibir saya. Akhirnya kami melewati malam itu dengan hanya menggunakan satu kamar dan keesokan harinya, perjalanan 12 jam melintasi Samudera Pasifik menjadi sangat menyenangkan dan singkat. Sesampainya kami di Los Angeles, kami berpisah tetapi kami tetap menjadi teman.

Char, via E-mail

THE LADY IS WAITING!
:: 06-05-2010

Beberapa waktu lalu setelah selesai clubbing, aku meminta pacarku untuk mengantarku pulang. Tetapi sewaktu dalam perjalanan pulang, kami memutuskan untuk mampir makan dulu karena aku lapar saat itu. Kami berhenti di sebuah restoran yang buka 24 jam karena saat itu sudah larut malam menjelang pagi. Setelah memesan makanan, aku meminta pacarku untuk menemaniku ke kamar kecil. Tetapi setibanya kami di ruang yang terletak agak tersembunyi tersebut, dia mulai memberikan aku ciuman bertubi-tubi. Dan bukan hanya menciumku, tangannya juga mengerayangi badanku dimana-mana. Mendapatkan perlakuan seperti itu, aku yang masih dalam keadaan setengah tipsy, langsung menjadi horny dan membuka retsleting celananya, memasukkan tanganku ke dalamnya dan mulai memainkan “alat”-nya itu.

Dia membalas dengan mengangkat rok bajuku dan memainkan jarinya di bawah sana. Itu membuatku menjadi sangat lupa diri dan tidak sengaja suara teriakanku lama kelamaan menjadi keras. Pada saat aku mendekati orgasme, tiba-tiba ada ketukan keras di pintu. Kami buru-buru menyudahi kesibukkan kami dan keluar dari ruangan itu. Aku terkejut melihat seorang ibu tua sudah menunggu di depan pintu untuk buang air. Aku menutup wajah sambil tertawa dan kami berjalan kembali ke meja makan kami. Keadaannya lebih lucu lagi karena ternyata ibu tua itu duduknya persis di hadapanku di meja yang tidak terlalu jauh dari kami – dan dia melotot memandangi kami selama makan! Kami pulang dan melanjutkan kegiatan kami di rumahku, kali ini tanpa ada yang mengganggu kami.

Justine, via e-mail

HADIAH DI KLUB
:: 29-04-2010

Saya sudah lama sekali single dan saya akui semakin haus akan sentuhan pria. Karena itu, ketika suatu malam teman-teman saya mengajak berpesta di klab saya mau saja. Siapa tahu saya bisa menemukan teman kencan potensial disana! Apalagi malam itu sedang ada acara khusus yang membuat klub tujuan kami penuh sesak. Tak lupa saya memakai makeup secantik mungkin dan baju seksi yang memamerkan kaki jenjang saya. Benar saja, dari awal saya turun ke lantai dansa, ada seorang pria yang terus menerus memperhatikan saya. Saya pun sedikit mencuri pandang dan mencari cara agar semakin mendekat. Akhirnya kami sempat dance bersama. Awalnya, ia memeluk saya dari belakang. Lama kelamaan, ia mulai meraba-raba daerah payudara saya. Bukannya marah, itu malah membuat saya turn-on. Karena berada di bawah pengaruh alkohol, lama kelamaan ia pun makin berani. tangannya mulai merogoh ke balik rok mini saya dan bermain di daerah pribadi saya.

Karena tak tahan, akhirnya saya menariknya ke kamar mandi unisex terdekat. Di dalam salah satu bilik, kami puas melepaskan hasrat kami berdua. Setelah sesi bercinta selesai, barulah kami sadar kami sama sekali belum berkenalan. Sambil tertawa, kami berkenalan dan bertukar nomor telepon. Memang sesudahnya kami tidak pernah berpacaran, namun kami melanjutkan hubungan sebagai 'teman baik' yang selalu ada jika 'dibutuhkan' sampai saat ini.

Arini, via e-mail

WILD NIGHTS
:: 14-04-2010

Waktu itu saya baru saja putus dengan kekasih saya selama empat tahun. Saya sedikit merasa trauma dan tidak ingin terlibat dalam sebuah hubungan serius. Saya justru ingin menggila dan mengeksplor hubungan seksual saya dengan banyak pria. Mulailah saya sering berpakaian agak seksi ke kampus. Ternyata, perubahan penampilan saya dilihat oleh salah satu junior saya di kampus. Di suatu malam kami saling flirting yang berlanjut dengan flirt chat di YM. Keesokan harinya ia mengundang saya main ke kosannya. Awalnya kami hanya ngobrol sampai akhirnya dia mulai meraba-raba saya dan dilanjutkan dengan sesi bercinta.

Beberapa kali kami melakukan hubungan itu atas dasar have fun dan suka sama suka. Karena seringnya saya bersama dia saya pun mulai mengenal teman-teman sepermainannya. Kebetulan sahabat sang junior dari mereka satu kost dengan saya. Suatu hari lampu kost saya mati dan terbirit-birit saya lari ke kamarnya. Awalnya kami mengobrol untuk membunuh waktu. Namun entah bagaimana lama kelamaan ia mulai mencium saya dan kami pun memulai aksi meraba-raba dan berlanjut dengan sesi bercinta dengan sang sahabat, Awalnya saya sempat bingung dan takut aksi saya ketahuan. Namun lama kelamaan saya cuek saja karena toh saya memang tidak menjanjikan komitmen apa-apa terhadap mereka. Selama berbulan-bulan saya 'menggilir' mereka berdua dan saking rapinya saya 'bermain' mereka sama sekali tidak tahu. Suatu malam, bahkan saya 'bermain' dengan mereka secara bergilir. Pagi dengan si junior dan malamnya saya menikmati waktu dengan sahabatnya. Sensasinya memang luar biasa. Jauh lebih menyenangkan daripada dengan kekasih sendiri!

Kirana, Bandung

SKINNY QUICKIE
:: 07-04-2010

Malam itu cuaca Bali agak gerimis ketika pacar saya dan saya berjalan kaki di pasir di pantai yang lumayan sepi menuju ke hotel setelah bar-hopping. Pacar saya mulai meraba-raba saya dan membuat saya turn-on. Tetapi saya menghentikan tindakannya dia dan memintanya untuk melakukannya di kamar hotel saja.

Sesampainya kami di pantai di belakang hotel, saya menawarkan untuk berenang, tetapi dia menolak dan mengatakan akan menunggu saya di pantai saja. Beberapa saat kemudian, saya berlari di pantai yang sunyi itu hanya dengan bra dan panties menuju laut. Ketika sampai di kedalaman sepinggang, saya berbalik badan melihat ke arah pantai dan melihat pacar saya menyusul dengan hanya mengenakan celana dalamnya. Kami berenang tidak jauh dari pantai waktu saya menarik pacar saya kepelukan dan berkata, “Aku masih horny nih.” Itu cukup membuatnya tersenyum lebar dan dia mulai melucuti pakaian saya. Dalam satu menit, kami sudah bercinta di laut beberapa saat, sampai akhirnya sebuah ombak yang agak besar memisahkan kami berdua.

Setelah quickie itu, ia bertanya kepada saya dimana celana dalamnya. Saya menjawab tidak tahu karena saya juga dari tadi memegang pakaian saya sendiri. Saat itu saya baru sadar bahwa lampu-lampu sorot dari tepi pantai itu mengarah ke laut dan membuat kami dapat terlihat dari pantai. Saya juga lebih terkejut karena sekarang sudah ada beberapa orang di pantai. Kami terjebak di laut dan satu-satunya ide untuk keluar dari laut adalah dia memakai panties saya menuju pantai dan mengambil pakaian kami. Tanpa pilihan lain, dia melakukan itu.

AC, via e-mail

HIGHEST EDUCATION
:: 03-03-2010

Sewaktu menyelesaikan program S2 dulu, ada seorang dosen muda yang saya sukai di fakultas. Dia mengajar mahasiswa S1 tahun pertama dan kedua. Sebenarnya sih hampir semua temanteman mahasiswi yang masih single mempunyai fantasi menjadi istrinya, karena ia tampan, pintar dan juga berpenampilan menarik. Suatu malam, saya sibuk menyelesaikan sebuah presentasi di salah satu ruangan komputer kampus sampai lupa waktu dan bekerja sampai larut malam. Setelah akhirnya saya selesai, ternyata pintu menuju tangga turun sudah dikunci oleh sekuriti.

Saya menjadi takut karena saya hanya seorang diri di situ. Saya kemudian berusaha mencari seseorang dan melihat di sebuah ruangan di kantor fakultas di lantai itu, masih ada lampu yang menyala. Saya datangi ruangan itu dan ternyata ruangan itu adalah ruangan sang dosen muda itu. Saya mengatakan kepada dia bahwa kita berdua sepertinya terkunci di lantai itu. Tetapi dia hanya tersenyum dan menjawab jangan khawatir karena dia mempunyai kunci. Kami pun ngobrol-ngobrol ringan sambil menunggu dia selesai.

Pembicaraan kemudian berkembang ke arah yang “nakal” dan kami berduapun akhirnya merasa horny. Pertama dia bertanya apakah boleh mencium saya di bibir. Saya mengizinkan dia melakukan itu. Tidak lama dari situ saya merasa tangannya sudah meraba dada dan bokong saya. Mendapat rangsangan itu, saya pun mulai mengelus bagian depan celananya yang sudah menggelembung itu. Pendek cerita, kami akhirnya bercinta di ruang rapat fakultas hingga selesai. Kami berdua sangat menikmatinya. Saat ini, dosen muda itu sudah tidak lagi menjadi dosen tetapi sudah menjadi suami saya. Dan kami pun masih melakukan sesi percintaan yang berpetualang sampai saat ini.

AC, via e-mail

OBSESSION'S REALITY
:: 17-02-2010

Di kantor ada seorang cowok - sebut saja namanya Andi - yang bergaul dengan semua orang, populer dan lumayan ganteng. Pacarnya Andi juga teman saya di kantor yang sama, dan menurut dia saya "manis dan seksi". Saya merasa Andi juga mulai setuju dengan pandangan pacarnya itu karena di suatu acara yang kantor kami selenggarakan untuk sebuah klien, Andi mulai mendekati saya dan flirting meskipun pacarnya juga ada di acara tersebut. Melihat dia melakuukan itu, saya flirting balik kepada dia. Tetapi tiba-tiba saya mengingat pacarnya dan mengakhiri pembicaraan kita, lalu pergi dari situ.

Hari-hari berikutnya saya diundang Andi ke acara-acaranya tetapi kali ini pacarnya tidak datang. Saya jadi mulai suka dengan dia karena kami sering bersama. Satu waktu saya mengundang dia ke tempat saya, untuk bersama teman-teman saya nonton DVD. Dia duduk di sebelah saya dan ketika dia meletakkan tangannya di paha saya, saya tidak protes. Ketika teman-teman saya pamit pulang, Andi memilih tinggal untuk membantu beres-beres. Tidak bisa lagi menahan perasaan, kami mulai kissing passionately dan segalanya bergulir dari situ.

Hari-hari berikutnya Andi banyak mengirimkan SMS seksi dan mulai mengajak saya untuk ngedate seperti layaknya pasangan pacaran. Lalu saya mendengar kabar dia dan pacarnya sudah putus, tapi pacarnya itu tetap menjadi teman saya karena dia tidak tahu bahwa mantannya dan saya sudah jadian.

Happy, via e-mail

-->
 Join FHM Facebook

 Follow FHM Indonesia on Twitter

 MRA CARD

 
Hot News Kabar gembira bagi Anda pecinta musik The Beattles. Dalam rangka memperingati ulang tahun John Lennon ke-70, EMI berencana meluncurkan kembali delapan album karya penyanyi legendaris itu dalam bentuk ... [detail]
 
 
 
Best Viewed On Firefox. With Resolution 1024x768 pixel.
Link | Advertising | Terms and Conditions | About Us | Where to Buy

© 2008 FHM Indonesia